Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Selasa, 10 September 2013

Tamu Massif, Gunung Bawah Laut Terbesar



HOUSTON – Setelah meneliti selama 20 tahun, para ilmuwan Texas A&M University resmi menobatkan Tamu Massif sebagai gunung berapi bawah laut terbesar di dunia. Bahkan, gunung tidak aktif yang berjarak sekitar 1.000 mil atau 1.609 kilometer di sebelah timur Jepang itu merupakan salah satu yang terbesar dalam tata surya.
’’Ukuran gunung berapi tersebut hampir sama dengan luas wilayah Negara Bagian New Mexico di Amerika Serikat (AS),’’ ujar William Sager, dosen sekaligus ilmuwan pada University of Houston, yang memimpin penelitian terhadap Tamu Massif. Jumat (6/9) paparan mengenai gunung berapi yang ukurannya mencakup area seluas kira-kira 310.798 kilometer persegi tersebut terbit dalam jurnal Nature Geoscience.
Sebelum penemuan Tamu Massif, dunia meyakini Mauna Loa sebagai gunung berapi terbesar di bumi. Gunung yang terletak di Kepulauan Hawaii itu mencakup area seluas 5.179 kilometer persegi. ’’Ukuran Tamu Massif hanya bisa disaingi oleh Olympus Mons, gunung berapi terbesar di Planet Mars. Saking besarnya, gunung tersebut bisa dilihat hanya dengan menggunakan teleskop dari bumi,’’ tutur Sager.
Tidak hanya berukuran super, Tamu Massif juga memiliki bentuk yang unik. ’’Yang menarik adalah bentuk lerengnya. Lereng gunung ini tidak curam, tapi landai. Jadi, ketinggian tiap sisinya yang tidak sama bisa langsung tertangkap mata,’’ papar Sager.
Dia lantas mengategorikan bentuk gunung berapi yang terbentuk sekitar 145 juta tahun lalu itu sebagai perisai. Bentuk Tamu Massif yang unik itu, menurut Sager, akan sangat menguntungkan para ilmuwan. Sebab, mereka bisa mendapatkan banyak petunjuk tentang pembentukan gunung berapi dengan mempelajari bentuk Tamu Massif. ’’Dari sini, kami juga bisa mengetahui kinerja dapur gunung berapi sampai terjadi erupsi,’’ imbuh pria yang dulu mengajar di Texas A&M University tersebut.
Nama Tamu Massif sengaja dipilih Sager untuk menamai gunung berapi yang kali pertama dia temukan saat masih menjadi dosen pada College of Geosciences, Texas A&M University. ’’Tamu’’, menurut lelaki yang suka memakai baju kasual itu, merupakan singkatan dari Texas A&M University. ’’Massif’’ dia ambil dari kata massive yang berarti sangat besar.

320 Ribu Virus Bawaan Hewan Ancam Manusia



NEWORY--Sebuah penelitian Pusat Infeksi dan Imunitas di Universitas Columbia di AS terhadap binatang menunjukkan hasil yang mencengangkan. Bagaimana tidak, ternyata diduga setidaknya terdapat 320 ribu virus beredar pada sejumlah hewan.
"Penelitian diperlukan guna mengidentifikasi virus penyebab penyakit terutama yang dapat menyebar ke manusia guna mencegah pandemi di masa depan," ujar Prof Ian Lipkin , direktur Pusat Infeksi dan Imunitas di Universitas Columbia di AS, seperti dilansir BBC (3/9).
Biaya yang diperlukan untuk kegiatan ini bisa menghabiskan biaya lebih dari USD 6 miliar atau sekira Rp 60 triliun, tetapi ini hanya sebagian kecil dari biaya yang digunakan untuk menyelidiki virus yang berpotensi menjadi pandemi utama pada manusia.
"Apa yang kita bicarakan adalah mendefinisikan berbagai macam keragaman virus dalam mamalia. Dan niat kami adalah ketika kita mendapatkan informasi lebih lanjut, kita akan dapat memahami prinsip-prinsip yang mendasari faktor penentu risiko," tambahnya.
Dijelaskannya, hampir 70 persen dari virus yang menulari manusia , seperti HIV , Ebola dan Respiratory Syndrome baru di Arab ( Mers) , berasal dari satwa liar. Untuk meneliti, saat ini para peneliti di AS dan Bangladesh tengah meneliti spesies kelelawar yang disebut flying fox .
Hewan ini membawa virus Nipah, yang jika menyebar ke manusia bisa membunuh. Dengan mempelajari 1.897 sampel yang dikumpulkan dari kelelawar, ilmuwan mampu menilai berapa banyak patogen lainnya.
Mereka menemukan hampir 60 jenis virus, sebagian besar belum pernah terlihat sebelumnya.Tim peneliti kemudian melakukan ekstrapolasi angka ini untuk semua mamalia yang dikenal, dan menyimpulkan setidaknya ada 320.000 virus yang belum terdeteksi.
Para peneliti mengatakan, identifikasi semua ini akan menjadi sangat penting untuk menjaga selangkah lebih maju dari penyakit yang bisa menjadi ancaman bagi kesehatan manusia ."Jelas kita tidak bisa meneliti setiap binatang di planet ini , tapi kita bisa mencoba dan memetakan sebaik kita dapat menggunakan konsep disebut sebagai hotspot," pungkasnya.

Teleskop Inframerah Spitzer Ultah ke-10



PASADENA - Teleskop inframerah milik NASA, Spitzer Space Telescope merayakan ulang tahun ke-10 nya dalam mendukung penelitian ilmiah tentang astronomi dan semesta. Sejak diluncurkan pada 25 Agustus 2003, observatorium inframerah ini telah mempelajari berbagai komet dan asteroid, analisa planet dan galaksi, penghitungan bintang dan bahkan menemukan keberadaan bola karbon yang dikenal sebagai "Bucky Ball" berbentuk padat dalam ruang untuk pertama kalinya.
"Spitzer terus mengeksplorasi kosmos dekat dan jauh," ujar John Grunsfeld, pejabat dari badan antariksa NASA seperti dilansir redorbit.
Sebagai catatan, pada musim panas ini saja, Spitzer telah membantu ilmuwan menemukan sistem bintang muda yang berisi tiga bintang berkembang yang bekerja sama satu sama lain layaknya hula hoop. Spitzer juga sukses mengamati emisi karbon dioksida yang kuat dari Comet Ison yang tengah melalui tata surya bagian dalam pada tahun ini.
Selain itu, kemampuan inframerah Spitzer juga memungkinkan menganalisa komet dikenal sebagai Tempel 1. Teleskop ini juga mengejutkan komunitas ilmiah global dengan menemukan cincin-cincin planet Saturnus.
"Spitzer juga menemukan galaksi paling jauh di alam semesta," lanjutnya.
Teleskop tersebut awalnya dikenal sebagai Space Infrared Telescope Facility, dan dikenal lebih dekat dengan Spitzer untuk menghormati astronom Lyman Spitzer. Spitzer adalah seorang astrofisikawan yang berkontribusi besar di bidang dinamika bintang, fisika plasma, fusi termonuklir, dan astronomi ruang semesta. Ia juga orang pertama yang mengusulkan gagasan menempatkan teleskop besar di ruang angkasa, dan merupakan kekuatan pendorong di belakang pengembangan Hubble Space Telescope

Mobil Tanpa Pengemudi Jajal Jalanan Singapura



SINGAPURA - Sebuah kendaraan listrik pertama yang mampu berjalan tanpa pengemudi berhasil diuji coba di jalanan Singapura. Kendaraan itu merupakan hasil pengembangan insitute Nanyang Technological University (NTU) bersama dengan JTC dan produsen kendaraan induct, yang didukung oleh EDB.
Selain mampu menampung hingga delapan orang penumpang, kendaraan ini juga mampu mencapai kecepatan hingga 20 km/jam. Dalam uji cobanya, kendaraan listrik itu berhasil menyusuri rute sepanjang dua kilometer, yakni melewati jalanan antara Nanyang Technological University (NTU) dan JTC Corporation CleanTech Park.
Dalam pengembangannya, kendaraan itu membutuhkan proyek masa uji coba hingga dua tahun. Selain itu, kendaraan itu juga masuk sebagai proyek uji coba yang membutuhkan waktu sangat lama di jenisnya.
Jika uji coba terbukti berhasil, produsen kendaraan mengatakan kemungkinanannya untuk membuat kendaraan tanpa awak pengemudi itu di Singapura dan mulai menjualnya secara massal di wilayah Asia.
CEO Induct Technology, Pierre Lefevre mengatakan bahwa kendaraan itu merupakan sebuah bus kecil, tapi memiliki frekuensi yang lebih tinggi dengan harga jual yang jauh lebih murah dibandingkan biaya operasi bus. Jika kita ingin jalan dengan kendaraan ini, maka kita akan lebih hemat sekitar 30-50 persen dan lebih murah daripada (shuttle, -red) bus normal. Hal ini dapat menjadi solusi di beberapa daerah," katanya. 

Bawa Mesin Es Putar Go National



SURABAYA - Setelah meraih predikat terbaik tingkat Surabaya, teknologi tepat guna karya siswa SMKN 12 siap diadu dalam lomba tingkat nasional. Karya para siswa tersebut adalah mesin es puter yang memudahkan para pedagang untuk membuat es.
Kepala Kompetensi Keahlian Teknik Permesinan SMKN 12 Singgih Hartoko menjelaskan bahwa selama ini alat pembuat es puter hanya menggunakan sistem manual. Yakni, diaduk menggunakan kayu yang digerakkan tangan manusia. ''Pembuat es harus mengaduk berulang-ulang, baru bisa menjadi es puter,'' katanya.
Dengan adanya mesin itu, proses membuat es puter menjadi mudah. Mesin bertenaga listrik tersebut akan berputar sendiri mengaduk bahan es yang dimasukkan dalam tabung. Keunggulan lainnya, lanjut Singgih, mesin yang digunakan adalah mesin cuci bekas.
''Jadi, sangat ramah lingkungan,'' ujarnya. Harga jual mesin itu juga cukup terjangkau, yakni Rp 6 juta. Menurut Singgih, ada beberapa orang yang sudah memesan mesin tersebut.
Dia menyebutkan, mesin es puter itu akan disiapkan untuk mengikuti lomba teknologi tepat guna di tingkat nasional di Padang pada 17 September mendatang. Sebelumnya, mesin itu meraih juara dalam lomba yang diadakan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana (Bapemas KB) di JX International, Surabaya, pada April lalu.
Singgih menambahkan, sekolahnya juga mempunyai teknologi tepat guna yang lain. Yakni, mesin penggorengan kerupuk dengan media pasir. Selama ini, masyarakat menggunakan cara manual. Misalnya, memutar tempat penggorengan dengan tangan.
Cara menggunakan mesin itu sangat mudah. Tinggal memasukkan pasir dalam penggo­rengan yang berbentuk tabung. Kemudian tabung dipanaskan menggunakan gas LPG. Setelah itu, mesin yang tersambung dengan listrik tinggal dinyalakan. Begitu pasir memanas, baru dimasukkan kerupuk yang akan digoreng.

llmuwan Temukan Solusi Bahan Bakar dari Air



COLORADO -- Sebuah teknik baru untuk memproduksi gas hidrogen menggunakan sinar matahari dan air telah dikembangkan para peneliti di University of Colorado Boulder. Metode ini lebih efisien dan menghasilkan lebih banyak hidrogen dibanding metode pemisahan air sebelumnya.
Gas hidrogen merupakan gas yang sangat penting. Digunakan di mobil pada penciptaan amonia, termasuk untuk menyuburkan tanaman.
Menurut Badan Energi Internasional, 65 juta ton gas hidrogen diproduksi setiap tahun, sebagian besar dibuat dengan membakar gas alam.
"Alih-alih menggunakan gas alam untuk menghasilkan hidrogen, kami menggunakan sinar matahari dan air," kata Chris Muhich, penulis utama dari makalah yang diterbitkan di Science seperti dilansir Wired, Senin (5/8).
Muhich dan rekan-rekannya menjelaskan suatu proses untuk membuat hidrogen yang menggunakan panas matahari untuk memecah air menjadi hidrogen dan oksigen. Teknik seperti ini berpotensi mengembangkan bahan bakar yang melimpah apalagi hidrogen sebagian besar ada di lautan.
Tidak seperti teknik sebelumnya, pendekatan yang dilakukan ilmuwan Colorado berhasil memproduksi antara tiga dan 12 kali lebih hidrogen dibandingkan teknik pemisahan air sebelumnya. Selain itu, prosesnya lebih efisien.
Air terdiri dari dua atom hidrogen dan satu oksigen. Mengingat dua pertiga dari permukaan bumi ditutupi air, ada berlimpah energi bersih. Caranya adalah membuka hidrogen yang terperangkap di dalam molekul air.
Para ilmuwan ini menggunakan oksida logam yang bereaksi dan terikat dengan oksigen. Misalnya, karat adalah oksida logam - besi telah bereaksi dengan oksigen di udara.
Meski ada penemuan tersebut, komersialisasi reaktor solar-termal tersebut sepertinya masih perlu waktu bertahun-tahun.

Manusia Serakah Bakal Musnah karena Evolusi



LEICESTER-- Berbaik hatilah mulai sekarang. Pasalnya, berdasarkan hasil riset terbaru yang dilakukan para ilmuwan di Michigan State University, orang serakah dan egois tak akan punya tempat dalam kehidupan manusia di masa datang.
Evolusi akan membuat orang-orang seperti itu musnah dari muka bumi. Evolusi tidak akan memihak orang yang egois, demikian temuan sebuah riset tersebut. Hal ini mematahkan teori sebelumnya bahwa orang hanya bisa bertahan jika mendahulukan diri mereka sendiri.
Menurut riset terbaru ini menunjukkan bekerja sama dan memiliki sifat kooperatif justru bermanfaat untuk kelangsungan hidup. Para ilmuan menguji teori ini dengan skenario permainan yang merupakan studi dalam pengambilan keputusan.
Diterbitkan di Nature Communications, tim ini mengatakan penelitian mereka membuktikan sifat-sifat egoisme akan membuat manusia punah.
Model ini memungkinkan ilmuan mengupas strategi-strategi pengambilan keputusan yang kompleks dan mengetahui mengapa sifat-sifat tertentu muncul dalam diri individu.
Prof Andrew Coleman dari Universitas Leicester, Inggris, mengatakan studi ini menghentikan interpretasi ambisius dari strategi sebelumnya, yang mengatakan strategi-strategi egois dan manipulasi akan membuat seseorang bertahan dalam lingkungan keras.
"Darwin sendiri dulu terkejut dengan kerja sama yang dilihatnya di alam. Ia sangat tertarik dengan serangga-serangga sosial," kata Prof Coleman.
"Anda mungkin berpikir bahwa seleksi alam memihak individu yang eksploitatif dan egois, tapi faktanya sekarang kita tahu setelah riset puluhan tahun bahwa hal itu tidak benar, terutama jika anda menganggap gen egois muncul dalam evolusi," lanjutnya.
Ia menambahkan bukan individu yang harus bertahan, tetapi gen. Gen menggunakan organisme individu, baik hewan atau manusia, sebagai kendaraan untuk menyebarkan diri mereka.

Jepang Kirim Robot Teman Ngobrol Astronot ke ISS


Kirobo, robot yang bisa bercaka-cakap yang akan diluncurkan ke luar angkasa.

Foto; Space.Com

TOKYO - Jepang menjadi pelopor dengan meluncurkan robot yang dapat berbicara pertama kalinya ke luar angkasa sebagai pendamping astronot Kochi Wakata yang akan menjalankan misinya pada November mendatang. Robot itu akan tinggal landas dari Pulau Tanegashima bersama roket tanpa awak yang juga membawa pasokan bagi kru yang berada di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Menurut space.com, Sabtu (3/8), robot berukuran 34 cm bernama Kirobo akan tiba di ISS pada 9 Agustus nanti. Pengiriman robot ini merupakan bagian dari studi tentang cara mesin dapat memberikan dukungan emosional kepada orang-orang yang terisolasi dalam periode yang cukup panjang.
Peluncuran roket H-2B ini akan disiarkan secara online oleh Badan Eksplorasi Angkasa Jepang (JAXA). Roket tanpa awak ini juga akan membawa air minum, makanan, pakaian dan pasokan alat-alat kerja bagi enam kru permanen yang berada di ISS.
Proyek robot ini merupakan patungan produsen mobil Toyota dan perusahaan periklanan Dentsu. Kirobo sendiri diambil dari bahasa Jepang yang berarti 'harapan' dan 'robot'. Kirobo memiliki berat 12 kg dan memiliki jangkauan gerakan fisik yang luas. Robot ini dirancang terinspirasi karakter animasi Astro Boy.
Kirobo telah diprogram untuk dapat berkomunikasi dalam bahasa Jepang dan menyimpan percakapan dengan Wakata yang akan mengambil alih jabatan sebagai pimpinan di ISS pada akhir tahun ini. "Kirobo akan mengingat wajah Wakata, sehingga dapat mengenalinya jika mereka bertemu di luar angkasa," kata Tomotaka Takahashi, si pencipta Kirobo.
"Saya berharap robot ini dapat berfungsi sebagai mediator antara orang dan mesin, atau orang dan internet, dan terkadang antara orang dan orang," tambahnya.
Belasan uji coba telah dilakukan selama lebih dari sembilan bulan untuk memastikan kehandalan Kirobo. Robot itu memiliki kembaran yang ada di bumi bernama Mirata. Robot Mirata akan memantau semua masalah mitra elektroniknya yang berada di luar angkasa. "Ini merupakan langkah kecil bagi saya, sebuah lompatan besar bagi robot, "pungkasnya

Mahasiswa Rancang Detektor Cuaca 3 in 1

BANDUNG - Mahasiswa asal Universitas Sanggabuana(USB) YPKP berhasil mengembangkan pendeteksi cuaca 3 in 1, yakni mampu mendeteksi suhu, arah dan kecepatan angin oleh satu alat saja dan langsung ditampilkan dalam layar LCD.

Alat tersebut dikembangkan dua mahasiswa yakni Hendrik Ridwan yang mengembangkan perangkat keras.  Sedangkan aplikasi perangkat itu dikembangkan oleh Arif Wicaksono keduanya merupakan mahasiswa program tekhnik elektro.

Untuk mengembangkan alat tersebut dikatan Hendrik ia bekerjasama dengan dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia(LIPI).

”Ini merupakan tugas akhir dan kami kembangkan lagi dan bekerjasama dengan LIPI  yang memberikan fasilitasi peminjaman perangkat sensor pendeteksi alat deteksi cuaca itu,” ujarnya yang ditemui di kampusnya, Jalan Suci, Bandung, kemarin.

Dijelaskannya jika alat sensor itu dikembangkan dan dibaca oleh hardwere yang merupakan pengembangannnya, untuk kemudian dipantau dalam sistem digital, sedangkan aplikasinya dikemas dalam format personal computer.    

Hendrik menyebutkan alat sensor cuaca untuk kepentingan stasiun cuaca mini tersebut.  Rancang bangun pengamat cuaca mini tersebut dilakukan dengan menggunakan mikro kontroler ATM-EGA 8535.

"Perangkatnya kami rancang sendiri, dan disinergikan dengan softwere yang dikembangkan teman saya Arif Wicaksono. Dalam hal ini kami bekerja team work dan bersinergi,"  Hendrik.

Dalam display perangkat keras yang dirancang Hendrik, dapat diketahui prameter suhu ruangan dengan maksimal 35 derajat celcius, kemudian arah angin dan kecepatan angin.

Sementara itu Arif Wicaksono  yang membuat perangkat lunak dengan menggunanakan sistem "Visal Basic" dalam menyusun bahasa programnya.  "Dari sensor itu dapat dibaca berapa temperatur, arah dan kecepatan angin. Selain itu perangkat ini juga bisa menyimpan data untuk beberapa hari ke belakang. Data semuanya langsung disaving," kata Arif.    

Ia menyebutkan, perangkat stasiun cuaca mini ini bisa digunakan untuk mendukung pertanian, kebun hidroponik dan juga di kawasan yang memerlukan stasiun  cuaca.  Model ini sangat memungkinkan untuk dikembangkan  dengan parameter cuaca  lainnya seperti kelambaban, curah hujan dan lainnya.

Inggris Uji Coba Mobil tanpa Sopir

LONDON - Pemerintah Inggris bakal menguji mobil tanpa sopir di jalan umum pada akhir 2013. Sejauh ini, uji coba dari kendaraan otonom dilakukan hanya pada jalanan tertentu yang lebih privat.

Mobil tanpa sopir ini dipandu sistem sensor dan kamera dinilai berpotensi lebih aman dan lebih efisien daripada kendaraan biasa. Namun, untuk menjamin keamanan, sopir cadangan akan naik bersama selama tes yang dapat mengambil alih dalam keadaan darurat.

Menurut laman BBC (16/7), rencana tes ini telah resmi disahkan Departemen Transportasi, sebagai bagian dari investasi untuk mengurangi kemacetan di Inggris.

Laporan itu mengatakan kendaraan driverless mampu mengemudi sendiri dengan menggunakan pengetahuan tentang lingkungan di mana mereka mengemudi. "Mereka menjaga jarak aman dari kendaraan di depan pada kecepatan yang ditetapkan dan tanpa menyimpang dari jalur mereka - semua tanpa masukan pengemudi," ujar sumber Kementrian Transportasi Inggris.

Untuk saat ini, mobil-mobil akan menjalani tes ringan di pedesaan dan jalan pinggiran kota dalam mode semi-otonom dengan memberikan penumpang manusia untuk campur tangan dalam kondisi darurat.

Tim penguji dari Oxford University yang telah mengembangkan dan menguji teknologi mobil otonom yang diadaptasi Nissan Leaf. Teknologi ini menggunakan laser dan kamera kecil untuk menghafal perjalanan biasa seperti bolak-balik atau menuju ke sekolah.

Untuk perusahaan, Google merupakan leader mobil tanpa sopir, dengan armada prototipe Toyota Prius yang telah mampu menempuh lebih dari 300 ribu mil di jalan umum.

"Mobil self-driving akan secara dramatis meningkatkan kualitas hidup untuk semua orang dan itu akan tersedia secara komersial dalam beberapa dekade," ujar pendiri Google Sergey Brin

Feses Sapi Diubah Jadi Sumber Listrik

MALANG- Mahasiswa ITN Malang berhasil memanfaatkan bakteri pada feses atau kotoran sapi menjadi sumber tenaga listrik. Bakteri bernama Eschericia Coli itu, di tangan mahasiswa ITN Malang mampu dikembangkan menjadi sumber energi listrik yang untuk tahap awal dapat menghasilkan tegangan 0,29 volt dan arus 0,0021 ampere. Penelitian ini dilakukan tim Program Kreativitas Mahasiswa  (PKM) yang beranggotakan Agung Nyoman Prayogo, Arief Indriawan, Ahmad Zainudin dan Zainan Farid. 

”Selama ini pemanfaatan geses sapi belum optimal, padahal mudah didapat dan memiliki manfaat untuk energi alternatif,” ungkap Ketua Tim, Agung Nyoman Prayogo saat ditemui Malang Post (Grup JPNN) di Kampus 1 ITN Malang, Selasa (16/7/13).

Tim Mahasiswa Teknik Mesin S-1 di ITN Malang ini membuat penelitian dengan judul “Pemanfaatan Bakteri Eschericia Coli Sebagai Sumber Energi Listrik Alternatif dengan Teknologi Microbial Fuel Cells (MFC’s). Tim ini dibimbing oleh dosen ITN, Wahyu Panji Asmoro, ST, MT.  

Menurut Agung, selama ini sebagian besar peneliti yang meneliti tentang MFC’s, menggunakan bakteri tambang atau Shewanella putrefaciens, Geobacteraceae sulferreducens, Geobacter metallireducens dan Rhodoferax ferrireducens. Di sinilah perbedaan yang ada pada MFC’s mahasiswa ITN, yaitu menggunakan bakteri Eschericia Coli dengan pertimbangan bakteri ini mudah didapat dan membutuhkan biaya yang murah. Berbeda dengan bakteri lain yang susah didapat dan membuat biaya yang dikeluarkan cukup mahal. 

MFC’s adalah sistem pembangkit energi listrik dengan memanfaatkan interaksi bakteri yang terdapat di alam. Bakteri yang ada dalam medium organik mengubah bahan organik menjadi energi listrik. Sifat bakteri yang dapat mendegradasi medium organik (enrichment media) pada MFC’s menghasilkan ion elektron dan proton. Ion-ion inilah yang menghasilkan perbedaan potensial listrik sehingga dapat dihasilkan energi. Umumnya pada sistem konvensional, MFC’s terdiri dari dua ruang yaitu ruang anoda dan katoda. Kedua ruang tersebut dipisahkan oleh sebuah membran tempat terjadinya pertukaran proton (proton exchange membrane). 

Sistem ini belum sepenuhnya bekerja dengan kerja bakteri karena hanya sisi anoda saja yang mengandung bakteri, sedangkan pada sisi katoda masih bekerja dengan menggunakan senyawa kimia seperti Polialumunium Chloride (PAC). Penelitian tentang MFC’s dengan mediator, pada umumnya menggunakan membran. Membran yang dimaksud adalah proton exchange membrane (PEM, walaupun singkatan tersebut juga digunakan untuk polymer electrolyte membrane). 

PEM tersebut adalah jembatan garam yang terdiri dari susunan protein yang hanya mengizinkan ion positif yang dapat melaluinya, bergerak dari anode menuju katode, tetapi tetap memisahkan kedua larutannya. 

Ia membeberkan, pada percobaan pertama, bakteri belum berhasil mengeluarkan arus dan tegangan. Pada tahap ini tim menggunakan kentang sebagai jembatan garamnya. Pada percobaan kedua, tim menggunakan bengkoang sebagai jembatan garam, hasilnya masih sama, tidak mengeluarkan arus dan tegangan. Namun pada percobaan ketiga MFC’s, bisa menghasilkan tegangan sebesar 0,29 Volt dan Arus 0,021 Ampere dengan penambahan beberapa larutan kimia sebagai sumber makan bagi bakteri Eschericia Coli, serta agar-agar sebagai jembatan garamnya. 

“Harapan kita ke depan, bisa memaksimalkan arus dan tegangan yang dihasilkan oleh MFC’s kita ini dengan skala yang besar, sehingga bisa dimanfaatkan sebagai penghasil listrik alternatif. Dengan adanya MFC’s, secara tidak langsung juga bisa mengurangi jumlah sampah  atau limbah organik seperti feses sapi,” pungkasnya. 

Kalender Tertua di Dunia Ditemukan di Skotlandia

LONDON -- Arkeolog Inggris mengklaim telah menemukan kalender lunar tertua di dunia di Aberdeenshire, Skotlandia, Britania Raya. Temuan dari Tim Peneliti Universitas Birmingham menunjukkan monumen kuno itu diciptakan manusia sekitar 10 ribu tahun lalu.

Penggalian di lapangan Crathes Castle menemukan serangkaian 12 lubang yang dibuat untuk meniru fase bulan. Para ahli yang melakukan analisa mengatakan lubang tersebut berisi tiang kayu.

Kalender Mesolitikum seperti ini berusia ribuan tahun lebih tua dari monumen pengukur waktu yang dibuat peradaban Mesopotamia. Analisa ini dipublikasikan di jurnal Internet Archaeology.

Seperti yang dilansir Iol, Senin (15/7), penyelarasan lubang juga sejalan dengan matahari terbit sehingga manusia dapat mengetahui 'koreksi astronomi' untuk mengikuti perjalanan waktu dan perubahan musim.

"Bukti menunjukkan masyarakat pemburu di Skotlandia memiliki kebutuhan untuk melacak pergerakan waktu, mengoreksi penyimpangan musim di tahun lunar, dan ini terjadi hampir 5 ribu tahun sebelum kalender formal pertama yang dikenal," kata Vince Gaffney, profesor dari Universitas Birmingham.

"Ini menggambarkan langkah penting menuju konsep perkembangan waktu secara formal. Ini juga penting bagi sejarah itu sendiri," lanjutnya.

Sementara Richard Bates dari Universitas St Andrews, yang ikut dalam penelitian mengatakan penemuan ini juga menunjukan bukti kuat bahwa ada kehidupan manusia di zaman Mesolitikum, Skotlandia.

Ilmuwan Rusia Berhasil Merilis Meteorit Chelyabinsk

MOSCOW--Para ilmuwan di Rusia telah merilis gambar mikroskopis dari fragmen meteorit yang menghajar dataran Rusia tengah pada Februari lalu.

Laman BBC menyebutkan, sebuah tim dari Universitas Federal Ural sejauh ini berhasil menganalisis beberapa dari puluhan sampel setelah ditemukan. Teknik yang digunakan memungkinkan menilai susunan materi kimia pada batuan meteroit di tingkat mikroskopis.

Hal itu dinilai bisa memberikan informasi tambahan susunan batuan tersebut dan perjalanan yang ditempuhnya sebelum menghantam bumi.

Fragmen tersebut hanya mewakili sebagian kecil dari sisa-sisa seluruh meteorit yang diduga berukuran 17 meter. Meteor tersebut memasuki atmosfer bumi dan meninggalkan jejak cahaya spektakuler di atas Kota Chelyabinsk.

"Fragmen itu mengandung sejumlah mineral standar, termasuk olivin, piroksen, troilite dan kamacite. Mineral ini yang hanya dapat ditemukan di luar angkasa. Hal itu mengkonfirmasi sifat extraterrestrialnya," kata Viktor Grokhovsky.

Dijelaskannya, tim peneliti menggunakan mikroskop elektron yang difokuskan ke bagian kecil dari sampel. "Bagi para peneliti yang mencari meteorit ini, hal itu akan memberikan informasi tentang mineral yang dikandungnya," lanjutnya.

Meteor yang jatuh di Chelyabinks, Siberia, Rusia melukai lebih dari 1.000 orang serta membuat kepanikan massal di kota berpopulasi 1 juta orang itu. Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) memperkirakan meteor itu seukuran bus dan berbobot sekitar 7 ribu ton. Namun, kekuatannya sangat dahsyat hingga 20 kali bom atom Hiroshima.

Meteor yang meluncur ke wilayah barat Siberia itu masuk atmosfer bumi pada pukul 09.20 pagi waktu setempat dengan kecepatan sedikitnya 54 ribu kilometer per jam dan meledak di ketinggian 30-50 kilometer.

Gelombang kejutnya diperkirakan memecahkan kaca seluas 100 ribu meter persegi dan merusak 3 ribu gedung di kota itu.

Mobil Listrik Dipasarkan Mulai 2014


BOGOR – Rencana Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan untuk memproduksi secara masal mobil listrik segera terwujud. Persoalan baterai yang selama ini menjadi salah satu kendala sudah teratasi.

Kemarin (13/7) baterai litium pertama di Indonesia untuk kebutuhan mobil listrik nasional diluncurkan di pabrik PT Nipress Tbk di Jalan Raya Narogong Km 26 Cileungsi, Bogor. Dengan baterai tersebut, Dahlan menargetkan pada 2014 sudah dipasarkan mobil listrik produksi dalam negeri sebanyak 5.000 unit.

Dahlan mengatakan, baterai litium menjadi solusi atas permasalahan suplai energi yang dihadapi dalam mengembangkan mobil listrik. ”Penemuan ini saya catat karena sangat penting. Ini hasil diskusi yang sangat lama dari tim mobil listrik. Produksi baterai litium ini juga selesai sesuai target,” papar Dahlan setelah meresmikan pabrik baterai litium milik PT Nipress.

Menurut Dahlan, dibutuhkan waktu 15 tahun untuk menjadi raja produsen mobil listrik di dunia.

”Sekarang pakai mobil listrik dicerca orang, dicaci maki orang. Kemarin dengar sudah ada pabrik mobil listrik di AS yang (menghasilkan) laba. Kemudian, ada pabrik pembuatan bajaj listrik di Sidoarjo, buatan Swedia. Itu kabar baik,” ujar Dahlan.

Produksi baterai litium di dalam negeri akan mengakselerasi pengembangan mobil listrik sebelum akhirnya dipasarkan tahun depan. Kementerian BUMN akan menempatkan sejumlah perusahaan pelat merah sebagai salah satu konsumen utama, salah satunya PT PLN.

”Terima kasih kepada tim yang sudah bersusah payah membuat ini. Saya ucapkan selamat pada Indonesia karena baru saja meluncurkan baterai litium pertama di Indonesia. Seumur-umur, kita belum pernah buat baterai litium di Indonesia,” kata Dahlan.

Dahlan pada kesempatan itu juga memperkirakan, harga mobil listrik yang akan dijual bisa ditekan menjadi Rp140 juta. Dengan penggunaan baterai litium, harga jual kembalinya pun lebih stabil dan bobotnya lebih ringan.

Direktur Operasional PT Nipress Richard Tandiono mengatakan, bobot dan ukuran baterai litium itu hanya sepertiga baterai mobil listrik yang digunakan sekarang. ”Tadinya baterai untuk mobil listrik diimpor. Sekarang sudah ada di dalam negeri dengan kapasitas produksi 500 unit per bulan atau 6.000 unit per tahun,” terangnya.

Richard menyimulasikan head-to-head penggunaan mobil konvensional dan mobil listrik. Mobil berbahan bakar minyak dengan dapur pacu 1.300 cc setara dengan mobil listrik berkapasitas battery pack 15 kwh. Dengan jarak tempuh per bulan rata-rata 2.000 kilometer, biaya operasional pengguna mobil konvensional sekitar Rp 1,3 juta. Sedangkan mobil listrik hanya membutuhkan biaya operasional Rp 1 juta.

”Setiap 10 kilometer mobil konvensional diasumsikan menyedot BBM bersubsidi 1 liter dengan harga Rp 6.500. Sedangkan mobil listrik hanya dengan biaya Rp 750. Harga jualnya pun bisa lebih murah dengan sistem penggunaan baterai berjangka atau sewa,” jelasnya.

PT Nipress didaulat menjadi salah satu konsorsium penyokong industri mobil listrik nasional untuk penyedia baterai litium. Sementara PT Sarimas Ahmadi Pratama menjadi salah satu pelopor produsen mobil listrik, salah satunya tipe Ahmadi.